Dokter muda itu, Alia Pranita Sari (27), ternyata dibunuh kekasihnya sendiri. Penyebabnya karena dia menolak diajak menikah.
Mayatnya ditemukan di dalam mobil sedan Honda Jazz miliknya yang sengaja diparkir di halaman RSUD Selasih, Pangkalan Kerinci, Pelalawan, agar mudah ditemukan. Namun, jenazah Alia baru ditemukan empat hari kemudian, Minggu (23/8), dalam kondisi membusuk di dalam mobilnya.
Untuk memastikan apa penyebab kematian Alia, pihak Kepolisian Daerah Riau kemarin melakukan otopsi jenazah di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Saat otopsi berlangsung, orangtua Alia, dr H Agustria Zainu Saleh, Sp OG (K) Onk (56) dan istri, bersama sejumlah kerabat terlihat menunggu di luar ruangan.
Agustria mengatakan telah ikhlas menerima kematian putri sulungnya itu. “Saya berharap pelakunya dihukum seberat-beratnya, setimpal dengan perbuatan biadabnya kepada anak saya,” kata Agustria, Ketua Departemen Ob-Gyn RS Muhammad Hoesin dan FK Unsri, Palembang, Senin (24/8).
Proses otopsi berlangsung sekitar tiga jam. Ahli forensik, dr Dedi Afandi, DFM SpF, mengatakan, di tubuh korban ditemukan tanda-tanda kekerasan yang bisa mengakibatkan kematian, seperti di leher dan kepala bagian belakang.
Sekitar pukul 11.00 keluarga Alia diperbolehkan masuk ke kamar mayat untuk melihat jasad Alia. Seusai dimandikan dan dikafani, jenazah Alia dimasukkan ke peti jenazah dan dishalatkan di mushala RSUD Arifin Achmad.
Mobil ambulans kemudian mengantar peti jenazah Alia ke Bandara Sultan Syarif Kasim II untuk diterbangkan ke kampung halamannya di Palembang, Sumatera Selatan.
Iwan tersangka
Dari Palembang dilaporkan, Poltabes Palembang sudah menetapkan Iwan Andriansyah (27) sebagai tersangka pembunuh dr Alia, Senin. Tersangka diserahkan langsung oleh orangtuanya ke Mapolres Lahat.
Pada Senin pukul 03.15 Iwan tiba di Mapoltabes Palembang. Dia adalah duda beranak satu, putra Kepala Dinas Sosial Empatlawang, Sumsel, Syahril. Dia langsung menjalani pemeriksaan yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka.
Dalam BAP pertama, Iwan mengaku membunuh Alia di dalam mobil Honda Jazz di Jalan Lintas Timur di pinggiran Kota Jambi, Kamis (20/8) pukul 04.00. Dalam cerita pertama versi Iwan, Rabu malam Alia datang ke rumah kontrakannya. Alia mendesak Iwan agar mengajaknya pergi dari Palembang.
Kedua sejoli ini sedang ada masalah karena Iwan dipecat dari pekerjaan terkait perkara menggelapkan uang Rp 56,5 juta milik Bank Sumsel. Iwan mengaku, uang yang digelapkan itu banyak dipakai oleh Alia yang totalnya mencapai Rp 46,5 juta. Iwan menganggap, Alia berutang kepadanya. Utang lunas asalkan Alia mau menerima lamaran menikah dengannya.
“Saya awalnya tidak mau dia ajak pergi, tapi dia memaksa,” kata Iwan yang alumni Universitas Gunadarma ini. Iwan tampak tenang menjawab setiap pertanyaan. Sebungkus rokok putih dihabiskannya dalam pemeriksaan tiga jam itu.
Masih menurut keterangan di BAP pertama, keduanya pergi dengan mobil Alia ke luar Kota Palembang ke arah Jambi. Sepanjang perjalanan keduanya kerap bertengkar. Puncak pertengkaran saat Alia berubah pikiran dan tak mau menikah dengan Iwan.
Pertengkaran itu terjadi beberapa saat setelah mereka berdua berhubungan intim di atas mobil di pinggiran Kota Jambi.
Kata penolakan Alia membuat Iwan naik darah. Alia dicekik, lalu dihantam keningnya dan terakhir dipatahkan lehernya. Iwan membawa mayat Alia dan sampai di RSUD Selasih, Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Kamis (20/8) pukul 11.00.
“Saya taruh di sana supaya mayatnya mudah ditemukan orang,” katanya. Dengan angkutan umum Iwan lantas pergi ke Pekanbaru dan menginap semalam di sana.
Kesokan harinya, Jumat (21/8), dia pergi ke Lubuk Linggau, lalu ke Lampung dengan kereta. Minggu (23/8) pagi Iwan menghubungi ayahnya, Syahril. “Saya ceritakan semua dan disuruh pulang ke Lahat,” katanya.
Pukul 12.00 Iwan berangkat ke Lahat. Tiba pukul 23.00, ia diserahkan ayahnya ke Mapolres Lahat. Di sana sudah menunggu Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Kota Besar Palembang, dan Iwan langsung dibawa ke Palembang.
Bukti parkir di PS
Namun, BAP panjang yang menceritakan kronologi dan motif membunuh versi pertama ini hanya bertahan lima jam. Pagi harinya polisi menyodorkan bukti baru yang mengarahkan dugaan Iwan membunuh Alia di Palembang, tepatnya di rumah kontrakannya. Iwan pun mengaku telah berbohong.
Iwan pun langsung dibawa ke kontrakannya untuk olah tempat kejadian perkara (TKP). “Kami punya bukti kuat yang mementahkan alibinya. Korban dihabisi (dibunuh) bukan Kamis dini hari di Jambi, tapi disini pada Rabu (19/8) malam,” kata Kapoltabes Palembang Kombes Pol Luki Hermawan.
Bukti baru itu adalah print out parkir mobil milik korban dan Honda City silver bernopol BG 118 YN milik tersangka. “Jenazah korban bahkan sempat ditaruh dalam mobil Honda Jazz dan diparkirkan di PS (Palembang Square),” kata Luki.
Iwan bertemu Alia di pusat perbelanjaan PS, Rabu (19/8) siang. Kedua mobil tercatat masuk beriringan pukul 15.20. Pukul 15.45 mobil Iwan keluar dari parkiran. Mereka pergi ke rumah kontrakan Iwan, sedangkan mobil Alia tetap di parkiran PS. Saat di rumah kontrakan Iwan terjadilah dialog Iwan melamar Alia untuk menikah karena dia merasa uangnya habis untuk biaya selama pacaran.
“Kalau begini batal ajalah nikah. Nantilah tunggu sudah kerja aku bayar utangku. Aku enggak sanggup ngomong ke orangtuaku tentang keadaan kamu. Dan sekarang masih ada laki-laki lain yang mendekatiku, contohnya Reza dan dokter Hafid di Bengkulu,” kata Iwan, menirukan perkataan Alia.
Kata-kata penolakan inilah yang membuat Iwan marah dan membunuh Alia. Tangan kirinya mencekik leher Alia. Korban melawan, tetapi tinju kanan tersangka mendarat di jidat korban. Tiga kali pukulan di leher belakang mematahkan leher Alia yang mengakibatkan dokter muda berwajah cantik ini tewas.
Seusai menghabisi nyawa Alia di kontrakannya, sekitar pukul 21.00 Iwan tercatat masuk kembali ke parkiran Palembang Square sekitar pukul 21.00. Mayat Alia saat itu ditinggalkan di rumah kontrakannya. Iwan kemudian meninggalkan mobilnya di parkiran PS dan membawa mobil Alia ke kontrakannya. Mayat lalu dimasukkan ke mobil Honda Jazz Alia.
Selanjutnya, Iwan dengan mobil Alia masuk lagi ke parkiran PS. Iwan bertukar mobil. Mayat Alia dalam mobil Honda Jazz itu sempat ditinggalkan begitu saja di parkiran PS. Iwan membawa mobilnya ke kontrakannya, lalu ditinggalkannya. Iwan pun kembali ke PS naik ojek.
Sesampai di PS, dia mengambil mobil Alia dan membawa jenazah Alia ke luar Kota Palembang hingga akhirnya sampai di RSUD Pelalawan Riau. Setelah meninggalkan Honda Jazz yang berisi mayat Alia, Iwan selanjutnya pergi ke Lampung, lalu pulang ke rumah orangtuanya di Lahat.
*Kompas
Random Posts:
- 45 Temuan Penting Skandal Century Versi PDIP
- Heboh dua ABG menari bugil, direkam terus dihukum…
- Nasib SBY diujung tanduk….
- Malaysia gerah dengan ancaman BENDERA Indonesia…
- Rahasia dibalik Gempa Sumatra Barat…
- Kacau…, 2 Wanita Teman di FB Punya Suami Sama
- Inilah Iklan Paling Hot dan Sensual Kim Kardashian
- Aneh..? Mendagri Malaysia akan rehabilitasi Nurdin jika masih hidup…
- Inilah daftar pemain sepakbola top dunia, yang tak pernah ke Piala Dunia…
- Hah..!! Radio di Solo siarkan lagunya PKI…







Semeleketer’s