|
|
PDI Perjuangan mengungkap temuan penting dalam kasus skandal Rp 6,7 triliun Bank Century. Dalam pemaparan temuan ini, PDI Perjuangan sama sekali tidak menyebut nama pejabat yang diduga terseret.
“Dari sembilan temuan BPK diuraikan lagi, PDIP menemukan 45 temuan penting. Itu penjabaran dari sembilan kategori temuan dalam audit investigasi BPK,” kata anggota Pansus Century dari Fraksi PDIP Hendrawan Supratikno di Gedung DPR, Jakarta, Selasa 2 Februari 2010.
Menurut Hendrawan PDI Perjuangan memang tidak menyebut nama pejabat yang diduga terseret. PDI Perjuangan hanya menyebut pihak-pihak terkait dan dengan permasalahan hukumnya.
Selengkapnya… “45 Temuan Penting Skandal Century Versi PDIP” »
Ack (50), bapak tiga anak, diamankan aparat kepolisian karena diduga melakukan pencabulan terhadap Tia (13), bukan nama sebenarnya, siswa sekolah dasar di Kabupaten Aceh Besar.
Ruslan, ayah Tia, Senin (1/2/2010), mengatakan telah melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolsek Darul Imarah Aceh Besar pada Jumat lalu.
Kapoltabes Banda Aceh Kombes Armensyah Thay, melalui Kapolsek Darul Imarah Ipda Amriadi, mengatakan, baik korban maupun pelaku saat ini telah dimintai keterangan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, alasan Ack mencabuli Tia karena tergoda melihat kecantikan siswi SMP itu. Hingga kini kasus ini masih dalam penyidikan.
Terkait dengan hasil visum, Kapolsek mengatakan, hasilnya kemungkinan keluar hari ini, tetapi secara lisan pihaknya telah mendapatkan informasi dari dokter yang memeriksa Tia bahwa organ vital milik korban telah sobek akibat kekerasan seksual.
Menurut keterangan Ruslan, peristiwa itu bermula ketika Tia pulang sekolah pada Jumat. Karena cuaca saat itu hujan, Tia memutuskan untuk berteduh di depan toko kelontong milik Ack.
Saat itu korban langsung ditarik ke dalam warung dan dicabuli. Ternyata kejadian itu bukan yang pertama dilakukan Ack, tetapi sudah berulang kali sejak 2009.
Ruslan menerangkan, karena anaknya pulang dalam keadaan basah kuyup, ibunya langsung menyuruh Tia untuk mandi, dan saat itulah timbul kecurigaan sang ayah setelah mendapati ada sejumlah tanda merah di bagian dada putrinya.
Karena takut, awalnya anaknya tidak berani menceritakan apa yang telah dia alami, tetapi setelah didesak, akhirnya Tia baru berani buka mulut, dan betapa kagetnya saat mendengar Tia telah dicabuli Ack.
Lebih kaget lagi, pria ini juga telah mereka kenal karena letak rumah mereka dengan toko miliknya hanya berjarak sekitar 100 meter, dan tergolong masih tetangga dekat.
Saat ini Ack ditahan dan berstatus sebagai tersangka setelah polisi menghimpun keterangan dari korban dan keluarga sambil menunggu proses lebih lanjut.
*Kompas
Polisi kembali menangkap tersangka kasus pembobolan rekening nasabah melalui ATM. Tersangka baru ini adalah seorang pejabat bank yang punya kewenangan di dalam masalah ATM.
“Ada seorang pejabat di bank terindikasi terlibat. Pada orang ini kita lakukan upaya paksa dan sudah ditahan sejak dua hari lalu,” kata Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Senin (1/2/2010).
Menurutnya, tersangka bekerja di jajaran manajemen di salah satu cabang bank yang berada di Pulau Jawa. Selain itu, Ito tidak bersedia mengungkap identitas lebih lanjut dengan alasan menjaga kepercayaan publik terhadap bank bersangkutan.
“Kita menjaga kepercayaan terhadap bank. Kita tidak bicara masalah bank, tetapi oknum. Penyidik masih mendalami keterlibatannya,” jawab Ito.
Gagal total. Situasi itu tengah melanda Liverpol musim ini. Minta maaf dari para pemain, pelatih, maupun pemilik klub saja tidak cukup. Cepat atau lambat, “The Reds” perlu berubah.
Usai kekalahan di Piala FA, Rabu (13/1/2010) lalu, peluang menggondol piala bagi Steven Gerrard dkk musim ini semakin sempit. Satu-satunya titel yang masih mungkin dikejar adalah Liga Europa, yang akan mereka ikuti setelah terbuang dari Liga Champions.
Kekalahan lawan Reading di Piala FA itu pula, tekanan demi tekanan bertumpuk di Rafael Benitez dan skuadnya. Wakil kapten Jamie Carragher terang-terangan menyampaikan permintaan maafnya kepada Liverpudlian, penggemar klub Merseyside tersebut. “Kami harus minta maaf atas cara yang kami pertontonkan,” kata Carragher seperti dikutip The Sun.
Permohonan maaf tentu tidak bisa menghapus bersih kekecewaan penggemar “The Kop”. Permintaan maaf juga tak cukup bagi Carragher dkk untuk mengembalikan performa mereka. Liverpool perlu berubah. “Si Merah” perlu lebih bekerja keras, seperti janji Pelatih Rafael Benitez, tak peduli apakah lawan yang mereka hadapi lebih kuat atau lemah.
“Saya harus melihat ke depan dan tetap kerja keras kami. Yang bisa saya lakukan adalah mencoba melakukan yang terbaik, di setiap laga,” kata Benitez usai kekalahan di Anfield, Rabu malam.
“Itu (lawan Reading) malam buruk bagi Liverpool dan kami dapat menyembunyikannya. Kami harus berbuat lebih lawan tim dari liga yang lebih rendah,” ucap Carragher.
“Kami harus berbuat lebih baik dan kami harus pulih. Masih ada empat bulan sisa musim. Itu akan sulit dan hasil ini membuatnya agak menyulitkan bagi kami,” tambah bek tengah tersebut.
Tuntutan untuk bekerja lebih keras itu tidak hanya ditujukan kepada pelatih dan pemain. Pemilik klub pun punya tanggung jawab besar untuk mengangkat moral dan, terutama, performa tim.
Manajemen klub sudah berbenah, antara lain dengan mengubah struktur dewan klub. Salah satu pemilik “The Kop”, Tom Hicks, pun sudah berjanji untuk menggelontorkan banyak uang untuk membeli pemain musim depan. Striker Fernando Torres menunggu ketepatan janji itu karena kini bola berada di tangan petinggi klub.
“Kini tergantung kebijakan pemilik klub. Mereka harus membeli pemain sehingga hal ini tak terjadi lagi,” kata pemain Spanyol itu di situs The Times.
“Jika kami ingin bersaing dengan (Manchester) United dan Chelsea, kami perlu skuad yang jauh, jauh lebih komplet. Kami perlu pemain yang benar-benar kelas satu dan kami tidak dapat membiarkan pemain terbaik kami pergi,” tegasnya.
Jalan masih panjang bagi Liverpool. Mereka masih harus memikirkan bagaimana cara tampil tanpa Gerrard, Torres, dan Yossi Benayoun yang saat ini sedang cedera. Itu pertanda bahwa “The Reds” memang harus bekerja jauh lebih keras dari apa yang pernah mereka lakukan.
Sebuah bangunan tinggi bercat oranye-putih berpagar hitam tampak mencolok di tengah permukiman penduduk Kampung Sugutamu, Mekarjaya, Sukmajaya, Kota Depok. Bangunan itu bukanlah rumah tinggal biasa, tetapi disewakan untuk tempat kos atau kontrakan eksklusif.
Tidak ada yang bisa melarang memang, siapa pun yang punya uang lebih untuk kos atau mengontrak rumah yang termasuk mewah,. Sebab, gaya hidup mewah kini memang menjadi bagian hidup dari sebagian warga Kota Metropolitan seperti Jakarta dan sekitarnya.
Bagi sekelompok orang yang punya uang, kamar kos atau kontrakan tidak harus berupa petak-petak kecil yang kamarnya hanya berisi bangku reot dan tempat tidur sederhana. Mereka membutuhkan kamar yang merepresentasikan gaya hidup mewah yang mungkin sudah biasa dinikmati di rumahnya. Entah di Jakarta atau mereka yang berasal dari kota-kota besar lain.
Dan kebutuhan seperti itu tentu saja menimbulkan peluang bisnis bagi mereka yang jeli. Persoalannya, kini warga sekitar lokasi kos Duta Residence itu resah. Sistem sewa kontrakan harian yang diberlakukan oleh pengelola kos dianggap tak ubahnya dengan hotel atau kondominium. Tudingan kemungkinan adanya praktik tak sedap pun dialamatkan ke tempat itu.
Selengkapnya… “Rumah kos-kosan kok mirip hotel, pake sewa harian…. Busyet..!!” »
Posisi politik Presiden SBY di ujung tanduk dengan pernyataan Boediono dan Sri Mulyani bahwa kebijakan dana talangan Bank Century sudah dilaporkan kepada presiden.
Dalam pemeriksaan Pansus Hak Angket Kasus Bank Century di gedung DPR baru-baru ini, mantan Gubernur BI Boediono mengakui kebijakan dana talangan Bank Century Rp6,7 triliun sudah dilaporkan ke Presiden SBY.
Para pengamat ekonomi-politik melihat keterangan Boediono itu telah menyeret Presiden SBY untuk bertanggung jawab secara moral atas skandal menghebohkan itu.
Selengkapnya… “Nasib SBY diujung tanduk….” »
Halaman 1 dari 4712345»102030NextEnd »
|
|
|
Semeleketer’s